Hal yang Orang Perlu Lakukan Ketika Anak Menjadi Target Bullying

December 7, 2012 Tips Handal  No comments

Bullying merupakan suatu bentuk perilaku seseorang atau sekelompok orang yang secara berulang-ulang memanfaatkan ketidakseimbangan kekuatan dengan tujuan menyakiti targetnya (korban) baik secara mental maupun fisik. Tindakan ini biasanya dilakukan dengan cara mengejek, menghasut, mengucilkan, menakut-nakuti (intimidasi), mengancam, menindas, atau menganiaya secara fisik seperti mendorong, menampar, dan memukul.
Menurut Andrew Mellor dari Universitas of Edinburgh, Scotlandia, bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya, takut, terintimidasi, oleh tindakan seseorang baik secara verbal, fisik atau mental.
Beberapa macam tindakan Bullying adalah:
  1. Psikologis seperti memfitnah, mempermalukan, menakut-nakuti, menolak, menghina, melecehkan, mengecilkan, mentertawakan, mengancam, menyebarkan gosip, mencibir, dan mendiamkan
  2. Fisik seperti menendang, menempeleng, memukul, mencubit, menjotos, menjewer, lari keliling lapangan, push up, bersihkan WC, dan memalak.
  3. Verbal seperti berteriak, meledek, mengata-ngatai, name calling, mengumpat, memarahi, dan memaki.
Menurut Tika Bisono, MPsi, Psi, faktor pemicu bullying ini adalah latar belakang keluarga. Contoh, orangtua selalu mengatakan pada anaknya; ‘kamu tuh bodoh ya, begitu saja tidak bisa,’ itu sudah bullying. Artinya bahasa verbal seperti itu juga merupakan suatu budaya di dalam rumah dan inilah cikal bakal bullying.
Selain di rumah, faktor kedua adalah lingkungan atau pergaulan. Pada saat seseorang keluar rumah dan berada pada satu situasi di mana dia merasa paling berkuasa dan tidak ada orang yang dapat mengimbangi kekuasaannya.
Belum lagi dalam pergaulan adanya social approval, persetujuan sosial dimana kelompok yang ditindas menerima, ‘sudahlah memang kita dikuasi, ya mau apalagi.’ Sementara kelompok pebully itu juga demikian, yakin kalau mereka memang harus jadi pebully. Social approval ini benar-benar nyata, ditambah lagi makin diperkuat oleh aturan sekolah, misalnya tidak ada sanksi dan perilaku tersebut dibiarkan.
Faktor lain yang berperan dalam perilaku bullying adalah jenis kelamin, ras, dan status sosial keluarga. Selain itu, menurut riset terbaru yang dimuat jurnal Pediatrics edisi Mei 2010, 63% risiko bullying akan meningkat pada anak-anak yang memiliki berat badan berlebihan atau obesitas.
Lalu Apakah yang perlu dilakukan oleh orangtua untuk menghadapi hal itu?
  • Cermati gejala-gejala perubahan anak, dan segeralah lakukan pendekatan padanya
  • Tenanglah dalam bertindak, sambil meyakinkan anak bahwa ia telah mendapat perlindungan dari perilaku bullying mendatang
  • Laporkan kepada guru/ pihak sekolah untuk segera dilakukan penyelidikan
  • Meminta counsellor (guru BK)  sekolah melakukan penyelidikan tentang apa yang telah terjadi
  • Meminta pihak sekolah untuk memberikan info tentang apa yang sebenarnya telah terjadi
  • Mengajarkan anak cara-cara menghadapi bullying. Misalnya saja mengajarkan anak beladiri mungkin salah satu cara untuk mencegah terjadinya bullying sebab secara filosofi ilmu beladiri, taekwondo, silat atau sejenisnya memang lahir dari kondisi tertentu. Jadi tidak ada salahnya membekali anak dengan itu.

Sumber: Sevenseas

Dibaca 259 kali

Yuk Bun Di-shareShare on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on TumblrPin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponPrint this page

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>